コロナ関連

Perkembangan Covid19 Di Jepang: Situasi Terkini Di Masa Pandemi

Pandemi yang disebabkan oleh virus Covid19 masih terus berlangsung, pada artikel ini kami ingin membagi beberapa perkembangan situasi terkini Jepang di masa pandemi.

Jepang Memiliki Kasus Anaphylaxis Tinggi Dikarenakan Vaksin Pfizer

Pada tanggal 17 Februari lalu, pemerintah Jepang telah melaksanakan vaksinasi terhadap para pekerja medis, pelaksanaan ini sempat mengundang kritik karena dianggap terlalu lama apabila dibandingkan 70 negara lain yang telah melaksanakan vaksinasi jauh terlebih dahulu dibandingkan Jepang. Lebih dari sebulan telah berlalu sejak pelaksanaan vaksinasi tersebut, pada saat artikel ini ditulis terdapat 17 kasus anaphylaxis yakni syok yang disebabkan oleh reaksi alergi fatal di antara 107,558 pekerja medis yang telah divaksin.

“Apabila ini benar, maka kasus alergi ini nampaknya lebih banyak daripada USA dan Eropa” Ujar Taro Kono, menteri pertahanan Jepang.

Di USA terdapat 5 kasus pada setiap 1juta dosis dan di Eropa terdapat 20 kasus pada setiap 1 juta dosis. Akan tetapi dikarenakan Jepang sangat tertinggal dalam proses vaksinasi, persentase potensi kasus Anaphylaxis belum bisa dipastikan.

Pada masa sekarang, Jepang masih dalam proses memvaksinasi sekitar 4,8 juta pekerja medis di seluruh negara sebelum pada akhirnya akan melanjutkan proses vaksinasi untuk para lansia berumur 65 tahun keatas di pertengahan April. Setelah itu orang-orang dengan penyakit bawaan serta mereka yang bekerja di bidang perawatan lansia direncanakan akan jadi target selanjutnya.

Tokyo Masih Menjadi Zona Merah Dengan Potensi 1000 Kasus Lebih Dalam Sehari

Status darurat telah dicabut pada tanggal 21 Maret kemarin, apabila warga tidak menahan diri untuk tidak berkumpul dan berpesta, maka ada kemungkinan besar kasus positif akan semakin bertambah. Menurut penelitian apabila warga tidak menahan diri ada kemungkinan besar Tokyo, yang merupakan daerah dengan kasus positif tertinggi akan kembali menghadapi kasus positif lebih dari 1000 kasus perhari.

Sejak tanggal 21 Maret lalu, jumlah kasus positif di Jepang semakin naik dikarenakan bulan ini adalah bulan dimana banyak murid yang merayakan kelulusan mereka ataupun merayakan kepulangan, kepergian dan perpindahan orang2 terdekat. Perayaan-perayaan seperti ini sangatlah penting bagi khalayak ramai, pemerintah Jepang sangat menghimbau warga lokal dan asing yang berada di Jepang untuk menahan diri dan tidak berkumpul.

Sumber www.covid19japan.com 

 

Olimpiade Akan Dilaksanakan Tanpa Penonton Dari Luar Jepang

Sejak awal pandemi tahun lalu, satu hal yang ada di benak warga yang tinggal di Jepang adalah apakah akan berlangsung atau tidaknya perlombaan Olimpiade. Ajang olahraga terbesar di dunia ini penuh dengan persoalan, tak hanya dihambat oleh pandemi, acara ini juga banyak tertimpa skandal seperti mundurnya ketua olimpik Yoshiro Mori dikarenakan komennya yang seksis hingga membuat banyak orang mundur dan keluar dari panitia Olimpiade, dan tak lama creative director acara Hiroshi Sasaki juga mengundurkan diri setelah beliau menyarankan seorang pelawak Jepang terkenal, Naomi Watanabe; untuk mengenakan kostum pink seperti babi dan menjadi “olimpig” komennya mengundang kritik dari berbagai sisi dikarenakan komen tersebut dinilai sangat tidak layak dan merendahkan mereka yang memiliki tubuh yang berisi. Akan tetapi semua kejadian tersebut tidak menjadi halangan bagi komite Olimpiade untuk terus melanjutkan proses persiapan acara ini. Demi mengurangi penyebaran virus, Olimpiade akan diadakan tanpa penonton dari luar Jepang banyak pihak yang kurang setuju dengan keputusan ini karena dikhawatirkan walaupun tanpa penonton dari luar Jepang, tidak menghapus ancaman super spreader dapat dihindari.

Sampai artikel ini ditulis, belum ada pernyataan lebih lanjut dari pihak komite Olimpiade maupun pemerintah Jepang, kami harap keputusan yang diambil akan menjadi yang terbaik untuk kita semua.

 

Sumber:

Japan Times: COVID-19 NEWS UPDATES

 

 

コメントを残す

メールアドレスが公開されることはありません。 * が付いている欄は必須項目です

CAPTCHA