就職・転職

Kerja di Jepang: Pengalaman Menjadi Interpreter di Jepang

Apakah Anda pernah menghadiri webinar OBOI JEPANG yang pembicaranya adalah orang Jepang? Saat sesi tanya jawab pasti Anda sadar akan sosok yang menerjemahkan pertanyaan Anda dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Jepang, maupun sebaliknya. Sosok tersebut bertugas sebagai penafsir atau disebut interpreter. Dikutip dari Language Scientific, interpreter adalah seseorang yang berprofesi menafsirkan pembicara dalam satu bahasa, menangkap isi dari apa yang dikatakan, kemudian memparafrasekan pemahamannya tentang makna ke bahasa target.

Interpreting Simultan dan Konsekutif

Terdapat dua mode yang digunakan dalam profesi interpreter, yaitu interpreting simultan dan konsekutif. Interpreting simultan biasanya digunakan pada konferensi-konferensi internasional, pertemuan bilateral, dan sejenisnya dimana interpreter menyampaikan materi pembicara secara real time tanpa ada jeda. Sedangkan interpreting konsekutif adalah mode di mana pembicara berhenti sejenak berbicara untuk mempersilakan interpreter menerjemahkan, dalam mode ini interpreter memiliki waktu untuk mencatat poin-poin yang dibahas oleh pembicara.

Penulis sendiri cenderung ke interpreting konsekutif, seperti menerjemahkan ketika meeting atau menjembatani WNI yang ingin berkonsultasi dengan orang Jepang. 

Dalam artikel ini penulis ingin berbagi pengalaman menjadi interpreter selama bekerja di Jepang, tentunya penulis bukanlah interpreter profesional dengan jam kerja tinggi, namun melalui artikel ini penulis harap dapat berguna bagi Anda yang tertarik dunia penerjemahan. 

Apakah Menguasai Bahasa Saja Sudah Cukup Untuk Menjadi Interpreter?

Awal-awal penulis bekerja di Jepang adalah sebagai staf hotel, dimana hotel tersebut bermitra dengan pengusaha Indonesia yang mengharuskan penulis menjadi interpreter “dadakan” ketika mitra kerja datang ke hotel untuk berkunjung. Suatu ketika, di tahun 2015 penulis diminta menemani tamu dari Indonesia, penulis sempat kebingungan menjelaskan makna 気がきく(ki ga kiku) yang sering diucapkan staff hotel. Secara harfiah 気がきく(ki ga kiku) memiliki arti “penuh perhatian/peka/tanggap”, konteks ini digunakan untuk orang yang memiliki sikap peduli terhadap orang lain dengan melakukan inisiatif dari diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan orang tersebut. Sikap ini diterapkan oleh staf hotel untuk melayani tamu dengan mengamati apa yang diperlukan oleh tamu tanpa disuruh terlebih dahulu. Dari kisah ini, penulis ingin menyampaikan untuk menjadi interpreter tidak hanya bermodal kemampuan bahasa, kosakata saja, namun juga memiliki wawasan budaya yang luas untuk menyampaikan nuansa yang terkandung dalam kata tersebut.

Selain itu, Jepang memiliki dialek di tiap daerahnya seperti Tohoku-ben (dialek Tohoku), Kansai-ben (dialek Kansai), dengan memahami dialek dapat membantu Anda menafsirkan pesan dari pembicara dengan makna yang sepadan ke dalam bahasa target. 

Apakah Yang Harus Dipersiapkan Saat Bertugas?

Menguasai Materi

Penulis memiliki pengalaman menerjemahkan seminar online dengan tema yang berbeda-beda. Sebelum seminar, penulis meminta pembicara mengirimkan materi untuk dipelajari dan melakukan briefing dengan pembicara mengenai materi serta mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan apa yang sekiranya akan keluar. Selain itu, banyak membaca artikel yang terkait dengan materi dapat membuat persiapan Anda lebih mantap. Mengetahui banyak informasi dalam materi dapat membuat Anda lebih percaya diri saat menerjemahkan. 

Mencatat Kosakata Penting Yang Akan Digunakan 

Dalam beberapa seminar terdapat kosakata yang jarang digunakan sehari-hari, karena itu penting untuk mencatat kosakata yang akan keluar agar tidak gugup saat menerjemahkan. 

Menghadapi Stress 

Saat bertugas menjadi interpreter, sering kali Anda menghadapi stress, seperti gugup menjadi pusat perhatian karena hanya Andalah yang mengerti ucapan pembicara, atau pembicara yang tiba-tiba menambahkan materi pada hari H. Hal ini membuat Anda merasa tertekan dan jadi tidak fokus saat menerjemahkan, tapi tenang; ini adalah hal yang lumrah, bahkan interpreter dengan jam terbang yang tinggi pun masih merasakan hal ini. Persiapan yang matang dengan menguasai materi dapat membuat Anda lebih tenang menghadapinya. Sebelum bertugas, di menit-menit terakhir penulis selalu mengkonfirmasi ke pembicara apakah ada tambahan atau perubahan pada presentasi, hal ini dapat membuat persiapan mental lebih mantap. 

Mungkin terdengar klasik, sebelum bertugas penulis selalu mengolah pernafasan untuk menghadapi rasa gugup dan membuat tubuh lebih rileks.

sumber: Language Scientific

 

コメントを残す

メールアドレスが公開されることはありません。 * が付いている欄は必須項目です

CAPTCHA