就職・転職

Kerja di Jepang: 5 Budaya Kerja Di Jepang Yang Buat Orang Asing Kaget

Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang secara bertahap mulai membuka pintunya bagi pekerja asing sebagai tanggapan atas kesenjangan tenaga kerja dikarenakan populasi lansia meningkat yang tidak diimbangi dengan angka kelahiran. Hal ini memberikan peluang kerja baru untuk warga asing untuk bekerja di Jepang sebagai pekerja kerah biru di 14 jenis industri. Namun, sebelum Anda mulai merencanakan bekerja di Jepang, bersiap-siaplah menghadapi perbedaan budaya kerja yang mungkin mengejutkan Anda. 

 

  • Tidak Banyak Berbicara Selama Jam Kerja

 

Di mayoritas perusahaan korporat Jepang, Anda akan jarang menemukan pegawai yang asik bermain dengan ponsel maupun mengobrol dengan rekan sebelah. Umumnya pegawai kantoran yang bekerja dalam situasi kantor seperti ini hanya fokus bekerja dikarenakan melakukan hal tersebut akan dipandang rendah.

 

 

 

  • Lebih Suka Makan Sendiri Pada Jam Makan Siang

Saat jam istirahat, umumnya orang Indonesia sering mengajak rekan sejawat untuk makan siang bersama atau melakukan kegiatan bersama, namun di Jepang cukup berbeda. Orang Jepang saat jam istirahat cenderung makan siang sendiri. Mereka memiliki anggapan bahwa jam istirahat adalah waktu untuk diri sendiri, sehingga banyak orang menggunakan waktu mereka untuk menjalankan tugas pribadi di bank atau kantor pos. Namun ada juga yang mengajak makan siang bersama, tapi biasanya Anda harus bertanya atau membuat janji dahulu ke orang bersangkutan.

 

 

  • Minum Dengan Rekan Bisnis Dianggap Sebagai Bagian Dari Pekerjaan

Nomikai adalah acara makan-minum yang bertujuan untuk membantu rekan kerja membangun hubungan yang baik. Dalam budaya kerja Jepang, nomikai biasa diadakan untuk menyambut staf baru, perpisahan staf yang akan dipindah tugaskan, merayakan akhir tahun dan tahun baru. Dalam acara ini atasan Anda dan orang-orang dari semua tingkatan perusahaan akan hadir, oleh karena itu menghadiri nomikai sudah seperti kewajiban bagi orang Jepang, walaupun secara teknis acara ini dilakukan diluar jam kerja. Untuk pekerja asing budaya ini agak mengejutkan, namun Anda bisa menggunakan kesempatan ini sebagai ajang pertukaran budaya dengan rekan kerja orang Jepang.

 

  • Penggunaan Stempel (Hanko)

Penggunaan stempel nama, atau “hanko”, berakar kuat dalam budaya Jepang. Sama seperti tanda tangan, hanko diperlukan saat menandatangani banyak formulir dan kontrak. Hanko adalah  stempel yang digunakan untuk berbagai keperluan dalam masyarakat Jepang sebagai pengganti tanda tangan. Kegunaanya mulai dari tanda terima pengiriman dan penerimaan barang, hingga hal penting untuk dokumen akta nikah atau pembukaan tabungan. Sifatnya yang sangat penting inilah yang mungkin yang membuat perusahaan Jepang masih sangat bergantung pada kertas. Biasanya untuk tanda tangan sehari-hari, orang Jepang menggunakan stempel yang lebih kecil dan murah. Stempel yang digunakan untuk dokumen penting seperti pembukaan rekening di bank dibuat secara khusus, profesional, dengan harga yang cukup mahal. Di masa pandemi ini penggunaan hanko cukup menyulitkan orang Jepang untuk mencap dokumen fisik. Namun sifatnya yang penting, mengharuskan orang Jepang tetap menggunakannya. 

 

 

 

  • Jam Kerja Panjang

Jepang memiliki beberapa jam kerja terpanjang di dunia. Faktanya, jam kerja mereka adalah masalah yang sangat penting sehingga ‘ karoshi’ – sebuah kata yang diterjemahkan sebagai ‘kematian karena terlalu banyak bekerja’ – adalah penyebab kematian yang diakui secara hukum. Konsep “sabar bertahan” dan “tekun”, juga dikenal sebagai “gaman” dan “ganbaru”, sangat dihargai dalam budaya Jepang dan tercermin dengan jelas di tempat kerja. Menurut survei dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan , hampir seperempat dari perusahaan Jepang memiliki karyawan yang lembur 80 jam dalam satu bulan, dengan tambahan 12% karyawan yang melanggar batas 100 jam. Jam tambahan ini seringkali tidak dibayar. Selain itu, banyak pekerja Jepang di perusahaan besar tidak mengambil cuti berbayar karena takut merepotkan rekan kerja mereka. Namun pada tahun 2019 pemerintah mulai mengambil sikap dengan membatasi budaya kerja berlebihan di Jepang.

 

Budaya kerja di Jepang dan Indonesia sangatlah berbeda, jadi butuh waktu bagi Anda untuk beradaptasi. Apabila Anda memiliki kendala bekerja di Jepang, silakan konsultasikan dengan kami melalui LINE official OBOI JEPANG.

 

Sumber:

Hivelife『Work Culture in Japan: The 5 Crucial Differences You Should Know About』

Tsunagu local『7 Surprising Things About Japanese Work Culture, as Told by Internationals Working in Japan』

 

 

コメントを残す

メールアドレスが公開されることはありません。 * が付いている欄は必須項目です

CAPTCHA