就職・転職

Kehidupan Di Jepang: Menjaga Kesehatan Mental Di Jepang

Oleh: Jacqueline.G.T

Narasumber: Felicia, TELL

Bagi mayoritas orang di dunia, kesehatan mental tanpa disadari sering diabaikan, terutama mereka yang berasal belahan dunia bagian Timur seperti benua Asia. Dengan populasi penduduk yang mencapai miliaran, benua Asia bukanlah benua yang homogeneous, terdapat banyak budaya,bahasa, dan suku dengan perbedaan cukup besar yang tersebar di benua ini. Dalam sudut pandang Ekonomi, benua Asia juga merupakan pasar yang sangat menggiurkan karena terdapat banyak negara di benua ini yang termasuk sebagai negara-negara terkaya di dunia. Menurut International Monetary Fund, World Economic Outlook October 2019 6 dari 10 negara terkaya di dunia berada di benua Asia, meskipun begitu, tak sedikit pula terdapat negara miskin di benua Asia. Dalam sudut pandang politik, negara-negara di benua Asia bisa dibilang cukup variatif, akan tetapi mayoritas dari negara-negara tersebut memiliki 1 kesamaan: rendahnya kualitas penanganan isu kesehatan mental.

Kesehatan mental di negara-negara Asia merupakan isu yang jarang dibahas atau bahkan diakui, hal ini disebabkan budaya yang cenderung tidak ingin membuka aib atau merepotkan orang. Mayoritas orang Asia juga terbiasa dengan menyarankan orang-orang yang sedang menghadapi depresi atau tekanan mental untuk menerima nasib, mencoba untuk terus bersyukur dan terus mencoba agar suatu hari mendapatkan hasil, tanpa mencoba untuk menghadapi isu tekanan mental yang kerap menjadi sumber masalah.

Stress atau tekanan mental, apabila diibaratkan, seperti sampah mengandung bakteri yang apabila terus ditumpuk atau tidak ditangani secara baik, dapat menyebabkan penyakit yang akhirnya membahayakan diri kita. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan jasmani, keduanya perlu dirawat serta ditangani apabila ada gangguan. Sayangnya, karena tidak terlihat dari “luar” banyak orang yang tidak menyadari atau menganggap remeh ketika ada orang disekitar yang mengalami gangguan psikis/mental. 

Di artikel ini OBOI Jepang mengundang Felicia, seorang psikolog dari Indonesia yang bekerja di TELL sebuah organisasi yang memberikan bantuan bagi mereka yang berada di Jepang untuk berkonsultasi dan mendapatkan bantuan terkait kesehatan mental.

 

Stigma negatif terhadap kesehatan mental

Banyak orang yang memiliki bayangan kalau orang dengan gangguan mental itu seperti karikatur orang “gila” yang kerap kita temukan di media hiburan, penampakan yang berantakan, tertawa sendiri, memiliki perilaku yang tidak lazim dan masih banyak lagi. Alhasil banyak orang yang merasa malu apabila diri mereka atau orang terdekat mereka ada yang dicurigai memiliki gangguan mental dan memilih untuk menutupinya karena hal ini dianggap sebagai “aib” dan sesuatu yang “merepotkan”. Gangguan mental tidak seperti luka fisik yang dapat terlihat dengan mudah, akan tetapi, meskipun tak terlihat, bukan berarti tidak ada. Banyak orang yang dari luar terlihat selalu tersenyum bahagia, tertawa, membuat orang tertawa, sukses dan terlihat seperti orang yang hidupnya bagaikan impian semua orang, akan tetapi banyak dari orang-orang yang terlihat seperti menikmati kehidupan yang bagaikan impian itu, mengalami gangguan mental, tak jarang dari mereka yang akhirnya dikalahkan oleh “luka” mental mereka.

 

Apa faktor yang bisa menyebabkan terganggunya kesehatan mental?

Penyebab dari gangguan mental berbeda bagi setiap orang, tekanan sosial,budaya, ekonomi, beban kerja, bullying, trauma, hubungan yang kurang baik dengan keluarga, lingkungan yang menekan, terjebak dalam hubungan yang tidak sehat dan masih banyak lagi. 

Bagi perantau yang tinggal lama di negara lain kesepian, perbedaan budaya, bahasa dan diskriminasi merupakan faktor-faktor yang dapat menyebabkan depresi. Tak sedikit dari perantau yang merasa tak berdaya saat mereka mengalami depresi karena mungkin terhambat biaya, bahasa atau lokasi. Selain itu, perantau dari negara Asia cenderung tidak menyadari atau tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan saat mereka terkena depresi, begitu juga orang disekitar mereka, kata-kata seperti “Mungkin kamu kurang banyak berdoa” “Kalau berat kenapa masih bertahan? Pulang saja” sering kali didengar dan meskipun berasal dari niat baik, kata-kata seperti ini bisa membuat mereka yang mengalami depresi semakin merasa tak berdaya.

 

Apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental?

Tentunya tidak ada satu solusi konkrit yang dapat membebaskan kita dari depresi, setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda, akan tetapi kami berkehendak untuk membagikan beberapa kegiatan yang mungkin bisa membantu:

  • Istirahat, dan katakan pada diri Anda sendiri kalau beristirahat itu tidak apa-apa. Anda dapat mengambil istirahat pendek maupun panjang guna untuk menjauhkan diri dari kepenatan dan menyegarkan pikiran Anda kembali
  • Terus beraktivitas, melakukan Aktivitas fisik dapat merangsang pelepasan dopamin, norepinefrin, dan serotonin. Bahan kimia yang tercipta secara alami dari otak ini memainkan peran penting dalam mengatur suasana hati Anda. Anda tidak perlu melakukan terlalu banyak aktivitas fisik melelahkan, sekedar berjalan kaki, melakukan stretching atau naik turun tangga saja sudah membantu.
  • Tuangkan keluh kesah Anda kepada sebuah wadah atau orang yang terpercaya, Anda bisa mencoba menulis di kertas, menulis secara anonim di forum internet, bercerita kepada orang dekat yang bisa dipercaya, apapun yang bisa membantu Anda menumpahkan keluh kesah Anda. Memendam pikiran negatif bagaikan kita memendam sampah di tempat tinggal kita,apabila kita terus memendam sampah, maka lama-lama sampah tersebut akan mengundang penyakit bukan? Sama halnya dengan pikiran negatif, karena itu kita perlu mencari cara untuk ‘membuang’ nya.
  • Makan makanan yang sehat serta minum untuk agar tidak dehidrasi, tubuh kita membutuhkan nutrisi untuk menciptakan bahan kimia tubuh seperti dopamin,norepinefrin dan serotonin, makanan yang sehat dan tubuh yang cukup hidrasi baik untuk kesehatan jasmani serta rohani anda.
  • Jaga silaturahmi, bagi mereka yang tinggal jauh dari keluarga dan teman-teman, melakukan silaturahmi dapat membantu untuk menaikkan mood Anda.

 

Apa yang bisa kita lakukan apabila seseorang yang kita kenal mengalami depresi?

  • Dengarkan, dan tidak perlu memberikan pendapat atau mencoba memberi solusi apabila tidak diminta
  • Jangan membandingkan masalah mereka dengan masalah anda atau orang lain, apalagi meminta mereka untuk bersyukur.
  • Katakan pada mereka kalau “It’s okay” atau “Tidak apa-apa” ketika mereka menunjukan kerapuhan 
  • Tanyakan apakah mereka ingin cerita atau dibantu, tapi ingat untuk terus menjaga jarak, apabila mereka tidak ingin cerita, tunggulah sampai mereka siap
  • Tunjukkan, bukan hanya menyatakan kepada mereka kalau Anda peduli dan siap untuk membantu atau mendengar keluh kesah mereka dengan pemikiran yang terbuka dan anda tidak akan menghakimi
  • Berikan mereka ruang, dan jaga jarak, kita bisa memperhatikan orang terkasih kita tanpa mengganggu ruang personal mereka
  • Tanyakan kabar mereka sesekali, agar mereka tahu kalau mereka tidak sendiri
  • Ajak mereka untuk melakukan aktivitas yang bisa menghibur mereka

Terkadang hal terbaik yang bisa kita lakukan hanyalah diam, dan mendengarkan. Kondisi psikis setiap orang berbeda-beda dan apabila kita tidak berhati-hati bisa saja kita membuat kondisi orang yang kita kasihi jadi lebih buruk. Kita juga perlu ingat kalau kita tidak perlu “memperbaiki” atau “menyembuhkan” mereka yang sedang mengalami depresi, dan lebih baik untuk melakukan pendekatan secara halus, mendapatkan kepercayaan mereka dan menyarankan mereka untuk mencoba pergi ke profesional. 

Bagi Anda yang mungkin sedang mengalami depresi atau mengenal seseorang yang sedang depresi, Anda bisa mencoba menghubungi TELL ( https://telljp.com/lifeline/ ) Alo Dokter ( https://www.alodokter.com/ ) atau Into The Light ( https://www.intothelightid.org/ ) semua layanan ini tersedia bahasa Indonesia dan konsultasi online.

 

コメントを残す

メールアドレスが公開されることはありません。 * が付いている欄は必須項目です

CAPTCHA